Kamis, 28 April 2016

ANGGOTA ULANG TAHUN (APRIL)

Berikut ini adalah daftar Anggota Punguan yang merayakan Ulang Tahun pada bulan April ini.
Bagi yang berulang tahun, semoga diberi kesehatan, kesuksesan dan damai sejahtera.
Tuhan Yesus Memberkati.
Selamat Ulang Tahun dan terimalah Kado dari Firman Tuhan :(AMSAL 9:11)
"Karena oleh Aku (hikmat), umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah..

Rabu, 27 April 2016

BELAJAR ADAT ISTIADAT BATAK

JENIS-JENIS ULOS BATAK dan FUNGSINYA :



Ulos di kenal sebagai jati diri orang Batak sesuai dengan Budaya dan Adatnya. Suku Batak sering menyebut dirinya sebagai “Bangso” Batak. Hal tersebut sesuai dengan sejarah yang melekat pada suku tersebut. Dahulu suku Batak sudah memiliki Kerajaan sendiri, hal tersebut di tandai dengan eksitensinya sebaga suku yang telah “Mardebata Mulajadi Nabolon” (pencipta yang maha besar), memiliki Surat Aksara Batak, dan sudah pernah memiliki Uang tukar yakni Ringgit Batak (Ringgit Sitio Suara), uning-uningan na marragam (musik yang beraneka ragam), memiliki Budaya Adat, dan mempunyai Hukum adat tersendiri.
Ulos Batak di anggap memiliki nilai-nilai tersendiri sesuai dengan makna dan fungsinya berdasarkan ragam dan jenisnya. Keragaman ulos tersebut telah di tetapkan masing-masing sesuai dengan makna dan tujuan pemberiannya.
Salah satu hasil karya seni masyarakat etnis Batak Toba adalah “Ulos”. Hasil karya yang penuh dengan nilai-nilai estetika dan sekaligus sebagai bagian dari hakekat dan keberadaan masyarakat suku itu sendiri. Sebagai sebuah hasil karya yang telah memiliki makna yang tinggi, ulos telah menjadi bagian dari sebuah identitas yang memiliki nilai kultur yang tinggi serta mengandung makna ekonomi dan juga makna sosial. Oleh karena itu peredaran ulos ini tidak akan berjalan dengan sembarangan tanpa mempedomani makna dan nilai yang telah ditetapkan berdasarkan aturan dan norma-norma adat yang telah disepakati. Artinya “Ulos” sesuai dengan jenis dan maknanya akan di berikan dan di terima oleh orang yang telah tepat berdasarkan norma dan aturan-aturan yang telah ada dengan mempedomani Falsafah adat Batak “Dalihan Natolu”.
Sebagai sebuah simbol, maka fungsi dan kedudukan seseorang dalam pelaksanaan acara adat Batak Toba akan di ketahui melalui “Ulos” yang di pakai, di terima, dan yang di berikan sesuai dengan ragam dan jenisnya.Jenis dan Fungsi Ulos Batak berdasarkan makna yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut :
1. Ulos Antak-Antak
Ulos ini dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat orang yang meninggal, selain itu ulos tersebut juga dipakai sebagai kain yang dililit pada waktu acara manortor (menari).
2. Ulos Bintang Maratur
Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba yakni:
Kepada anak yang memasuki rumah baru. Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru di anggap sebagai salah satu bentuk keberhasilan atau prestasi tersendiri yang tak ternilai harganya. Tingginya penghargaan kepada orang yang telah berhasil membangun dan memiliki rumah baru adalah karena keberhasilan tersebut dianggap sebagai suatu berkat dari Tuhan yang maha Esa yang disertai dengan adanya usaha dan kerja keras yang bersangkutan di dalam menjalani kehidupan.
Orang batak yang tinggal dan menetap di berbagai puak/horja di sekitar Tapanuli telah memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda pula. Walaupun konsep dan pemahaman tentang adat itu secara umum adalah sama, namun pada hal-hal tertentu ada kalanya memiliki perbedaan dalam hal pemaknaan terhadap nilai dan konsep adat yang ada sejak turun-temurun. Oleh karena itu pemberian Ulos Bintang Maratur khusus di daerah Silindung di berikan kepada orang yang sedang bergembira dalam hal ini sewaktu menempati atau meresmikan rumah baru.
Secara khusus di daerah Toba Ulos ini diberikan waktu acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada anaknya. Ulos ini juga diberikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang selanjutnya, kemudian ulos ini juga di berikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa di pakai sebagai selendang.
3. Ulos Bolean
Ulos ini biasanya di pakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.
4. Ulos Mangiring
Ulos ini dipakai sebagai selendang, tali-tali, juga Ulos ini diberikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang memiliki maksud dan tujuan sekaligus sebagai Simbol besarnya keinginan agar si anak yang lahir baru kelak diiringi kelahiran anak yang seterusnya, Ulos ini juga dapat dipergunakan sebagai Parompa (alat gendong) untuk anak.
5. Ulos Padang Ursa dan Ulos Pinan Lobu-lobu
Di pakai sebagai Tali-tali dan Selendang.
6. Ulos Pinuncaan
Ulos ini terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu ulos. Kegunaannya antara lain:
1. Di pakai dalam berbagai keperluan acara-acara duka cita maupun suka cita, dalam acara adat ulos ini dipakai/ di sandang oleh Raja-Raja Adat.
2. Di pakai oleh Rakyat Biasa selama memenuhi beberapa pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat di pakai oleh suhut sihabolonon/ Hasuhuton (tuan rumah).
3. Kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran (kelompok istri dari golongan hula-hula), ulos ini juga di pakai/ di lilit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton (tuan rumah).
4. Ulos ini juga berfungsi sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan. Ulos Passamot di berikan oleh Orang tua pengantin perempuan (Hula-hula) kepada ke dua orang tua pengantin dari pihak laki-laki (pangoli). Sebagai pertanda bahwa mereka telah sah menjadi saudara dekat.
7. Ulos Ragi Hotang
Ulos ini di berikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat yang di sebut dengan nama Ulos Hela. Pemberian ulos Hela memiliki makna bahwa orang tua pengantin perempuan telah menyetujui putrinya di persunting atau diperistri oleh laki-laki yang telah di sebut sebagai “Hela” (menantu). Pemberian ulos ini selalu di sertai dengan memberikan mandar Hela (Sarung Menantu) yang menunjukkan bahwa laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku layaknya seorang laki-laki lajang tetapi harus berperilaku sebagai orang tua. Dan sarung tersebut di pakai dan di bawa untuk kegiatan-kegiatan adat.
8. Ulos Ragi Huting
Ulos ini sekarang sudah Jarang di pakai, konon pada jaman dulu sebelum Indonesia merdeka, anak perempuan (gadis-gadis) memakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari yang dililitkan di dada (Hoba-hoba) yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang putri (gadis perawan) batak Toba yang ber-adat.
9. Ulos Sibolang Rasta Pamontari
Ulos ini di pakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang, Ulos Sibolang bisa dikatakan sebagai simbol duka cita, yang di pakai sebagai Ulos Saput (orang dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu) dan di pakai juga sebagai Ulos Tujung untuk Janda dan Duda dengan kata lain kepada laki-laki yang ditinggal mati oleh istri dan kepada perempuan yang di tinggal mati oleh suaminya. Apabila pada peristiwa duka cita Ulos ini dipergunakan maka hal itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah sebagai keluarga dekat dari orang yang meninggal.
10. Ulos Si bunga Umbasang dan Ulos Simpar
Secara umum ulos ini hanya berfungsi dan di pakai sebagai Selendang bagi para ibu-ibu sewaktu mengikuti pelaksanaan segala jenis acara adat-istiadat yang kehadirannya sebatas undangan biasa yang di sebut sebagai Panoropi (yang meramaikan) .
11. Ulos Sitolu Tuho
Ulos ini di fungsikan atau di pakai sebagai ikat kepala atau selendang.
12. Ulos Suri-suri Ganjang
Ulos ini di pakai sebagai Hande-hande (selendang) pada waktu margondang (menari dengan alunanan musik Batak) dan juga di pergunakan oleh pihak Hula-hula (orang tua dari pihak istri) untuk manggabei (memberikan berkat) kepada pihak borunya (keturunannya) karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe (berkat).
13. Ulos Simarinjam sisi
Di pakai dan difungsikan sebagai kain dan juga di lengkapi dengan Ulos Pinunca yang di sandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani (mendahului di depan). Yang memakai ulos ini adalah satu orang yang berada paling depan.
14. Ulos Ragi Pakko dan Ulos Harangan
Pada zaman dahulu di pakai sebagai selimut bagi keluarga yang berasal dari golongan keluarga kaya, dan itu jugalah apabila nanti setelah tua dan meninggal akan di saput (di selimutkan, dibentangkan kepada jasad) dengan ulos yang pakai Ragi di tambah Ulos lainnya yang di sebut Ragi Pakko karena memang warnanya hitam seperti Pakko.
15. Ulos Tumtuman
Dipakai sebagai tali-tali yang bermotif dan di pakai oleh anak yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anak pertama dari hasuhutan (tuan rumah).
16. Ulos Tutur-Tutur.
Ulos ini dipakai sebagai tali-tali (ikat kepala) dan sebagai Hande-hande (selendang) yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya (keturunannya).Artikel sahatacb.blogspot Ulos Batak

KUNJUNGAN KASIH

Pada hari Minggu, 24 April 2016 punguan mengadakan kunjungan kasih ke rumah kel. Bpk Siburian/Br Simanjuntak (Naomi) atas telah dipanggilNya ibunda mertua dari Bapak Siburian di Madiun (Jawa) tgl 11 April 2016 yang lampau. Banyak anggota punguan yang hadir, menyampaikan turut berdukacita dan memberikan kata-kata penghiburan. Horas SAHATA...
Setelah selesai acara mangapuli tersebut, punguan melanjutkan kunjungan kasih ke rumah kel. Bpk Simamora/Br.Saragih untuk melihat kondisi kesehatan Bpk Simamora yang masih dalam pengobatan.
Sebagai rasa sepenanggungan, punguan memberikan sedikit bantuan dana untuk meringankan beban keluarga tersebut. Semoga Bapak Simamora cepat sembuh, sehat kembali dan Tuhan memberkatinya. Mari semua anggota punguan, kita doakan...Tuhan memberkati.Amin
 

Kamis, 21 April 2016

BADAN PENGURUS HARIAN (BPH) SAHATA


TOKOH SAHATA KITA


ALEX J SINAGA
 
 
Alex Janangkih Sinaga (lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 27 September 1961; umur 54 tahun) adalah Direktur Utama (CEO) Telkom menggantikan Arief Yahya yang menjadi Menteri Pariwisata dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Ia juga seorang jemaat HKBP, dalam karier gerejawi ia menjadi salah satu pengurus Badan Penggelola Sopo Marpingkir HKBP, yakni sebuah wadah bertukar pikiran (think tank) bagi para jemaat HKBP.[1]
Pada periode 2000-2007 Alex pernah menduduki beberapa seperti General Manager of Telkom West Jakarta, PT Telkom. Dia juga sebelumnya menjadi Senior Manager of Performance 2nd Regional Division Telkom. Selain itu, Alex pernah menjabat sebagai Head of Fixed Wireless Network Division Telkom dan Head of Enterprise Service Division Telkom. Pada 2008, Alex menjabat sebagai presiden komisaris PT Sigma Cipta Caraka dan Vice President of Toba Lake Golf Club. Alex juga menjabat sebagai presiden direktur PT Multimedia Nusantara, anak usaha Telkom pada 2007-2012. Dan Ia juga menjadi Direrktur Utama



Saat menjadi dirut Telkomsel Alex dapat memacu pertumbuhan double digit dan membuat keuntungan tahun 2012 melonjak sebesar Rp15,72 triliun atau naik 23% dibandingkan 2011 sebesar Rp 12,82 triliun. Disisi lain, jumlah pelanggan pun melesat menjadi 122 juta, termasuk 25 juta pelanggan data pasca masyarakat dilanda kejenuhan sebagai akibat perang tarif yang melanda industri seluler.

[2]


Alex resmi dipilih sebagai Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) di Jakarta, Jumat

19 Desember

 
S SIANTURI
(Ketua Sahata Periode 2014~2016)


Bapak S Sianturi, dikenal oleh para anggota punguan sebagai orang yang supel, mudah bergaul
dan gaya bicaranya tegas serta lugas. Amang Sianturi ini dilahirkan di sebuah desa di daerah Siborong-borong 40 tahun silam. Di-tengah-tengah kesibukannya bekerja di PT.Unilever Cikarang,
Amang Sianturi masih sangat aktif di dalam mengendalikan punguan SAHATA sebagai Ketua.

Rabu, 20 April 2016

SEJARAH BERDIRINYA PUNGUAN "SAHATA"


Pada waktu itu, hari minggu, 2 Juni 2001 pukul 17:00 WIB, diadakan rapat di rumah keluarga D Silalahi, jl. Panda IX blok H4 no 14 Cikarang Baru. Waktu Itu keluarga batak yang ada di jalan Jaguar, Kelinci, Singa, Menjangan, Tapir, 
Beruang, Panda, Antilop, dan Irigasi Raya Perumahan Cikarang Baru telah sepakat untuk membentuk kumpulan keluarga BATAK dengan menyusun pengurus yang berbentuk PARSAHUTAON.
Pada waktu itu seluruh anggota telah sepakat untuk memberikan nama kumpulan ini adalah “SAHATA”.
 Adapun tujuan dibentuknya parsahutaon ini adalah :
 1.Sebagai sarana pertemuan keluarga Batak sekali sebulan 
    untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 2.Untuk saling mengasihi dalam suka dan duka
 3.Memupuk persaudaraan dan melestarikan tata tertib adat
    SI Raja Batak.
 4.Menyatukan segala jenis peradaban Agama, adat istiadat  
    berlandaskan atas cinta kasih